Ngaji Filsafat: Kisah Dewa Ruci | Dr. Fahruddin Faiz
Dalam video ini, Dr. Fahruddin Faiz mengupas kisah Dewa Ruci, salah satu carangan dalam wayang yang diyakini berasal dari Sunan Kalijaga. Kisah ini sering dianggap mengandung pelajaran suluk dalam tarekat, tentang perjalanan spiritual menuju manunggaling kawula gusti—penyatuan antara manusia dengan Sang Pencipta. Kisah Dewa Ruci yang kaya akan makna filosofis telah menjadi rujukan penting bagi para dalang dan pencerita hingga saat ini.
🌟 Point Penting yang Dibahas:
🎭 Kisah Dewa Ruci dan Suluk Tarekat
Mengandung pelajaran spiritual dalam perjalanan menuju penyatuan dengan Tuhan.
💪 Tokoh Utama: Bima
Bima, salah satu tokoh Pandawa yang terkenal dengan kekuatan luar biasa, menjadi pusat dari kisah ini.
📚 Sumber Kisah Dewa Ruci
Kisah ini merujuk pada karya Yasadipura I, seorang pujangga Keraton Surakarta yang hidup pada masa Pakubuwono III dan IV.
📝 Pengaruh Sunan Kalijaga dan Pujangga Yasadipura I
Kisah ini dipercaya banyak dipengaruhi oleh Sunan Kalijaga dan disebarluaskan oleh tulisan Yasadipura I, guru dari pujangga besar Ranggawarsita.
Simak kajian mendalam ini dan temukan pelajaran filsafat serta spiritualitas dari kisah klasik Nusantara yang abadi. Jangan lupa like, komen, dan subscribe untuk kajian filsafat lainnya!
Note:
Thumbnail tidak menjeremuskan ke hal-hal buruk, namun bertujuan agar orang mau mengkaji, mendengarkan, memahami dan mendapatkan intisari hikmah terbaik.
Sumber:
Youtube ABU MARLO
#NgajiFilsafat #DewaRuci##FilsafatJawa #manunggalingkawulagusti #Wayang #SunanKalijaga #Yasadipura
#studifilsafat #channelngajifilsafat #ngajifilsafat #belajarfilsafat #fahrudinfaiz #pengajian #ngajibareng #ngajifilsafatterbaru #kajianfilsafat #filsafat #ustfahrudinfaiz #masjidjendralsudirman
Ngaji Filsafat: Kisah Dewa Ruci | Dr. Fahruddin Faiz
Dalam video ini, Dr. Fahruddin Faiz mengupas kisah Dewa Ruci, salah satu carangan dalam wayang yang diyakini berasal dari Sunan Kalijaga. Kisah ini sering dianggap mengandung pelajaran suluk dalam tarekat, tentang perjalanan spiritual menuju manunggaling kawula gusti—penyatuan antara manusia dengan Sang Pencipta. Kisah Dewa Ruci yang kaya akan makna filosofis telah menjadi rujukan penting bagi para dalang dan pencerita hingga saat ini.
🌟 Point Penting yang Dibahas:
🎭 Kisah Dewa Ruci dan Suluk Tarekat
Mengandung pelajaran spiritual dalam perjalanan menuju penyatuan dengan Tuhan.
💪 Tokoh Utama: Bima
Bima, salah satu tokoh Pandawa yang terkenal dengan kekuatan luar biasa, menjadi pusat dari kisah ini.
📚 Sumber Kisah Dewa Ruci
Kisah ini merujuk pada karya Yasadipura I, seorang pujangga Keraton Surakarta yang hidup pada masa Pakubuwono III dan IV.
📝 Pengaruh Sunan Kalijaga dan Pujangga Yasadipura I
Kisah ini dipercaya banyak dipengaruhi oleh Sunan Kalijaga dan disebarluaskan oleh tulisan Yasadipura I, guru dari pujangga besar Ranggawarsita.
Simak kajian mendalam ini dan temukan pelajaran filsafat serta spiritualitas dari kisah klasik Nusantara yang abadi. Jangan lupa like, komen, dan subscribe untuk kajian filsafat lainnya!
Note:
Thumbnail tidak menjeremuskan ke hal-hal buruk, namun bertujuan agar orang mau mengkaji, mendengarkan, memahami dan mendapatkan intisari hikmah terbaik.
Sumber:
Youtube ABU MARLO
#NgajiFilsafat #DewaRuci##FilsafatJawa #manunggalingkawulagusti #Wayang #SunanKalijaga #Yasadipura
#studifilsafat #channelngajifilsafat #ngajifilsafat #belajarfilsafat #fahrudinfaiz #pengajian #ngajibareng #ngajifilsafatterbaru #kajianfilsafat #filsafat #ustfahrudinfaiz #masjidjendralsudirman
"Kayu gung susuhing angin" dalam cerita wayang Jawa memiliki arti filosofis. "Kayu" (kayu) melambangkan keinginan atau hasrat, "gung" (gung) berarti besar, dan "susuhing angin" (susuhing angin) berarti napas atau semangat. Secara keseluruhan, ungkapan ini menggambarkan keinginan besar yang didorong oleh semangat yang kuat.
"Banyu Prawito Suci" (banyu: air, prawito: suci, suci: suci) adalah ungkapan yang secara harfiah berarti "air suci yang suci". Dalam konteks budaya Jawa, "Banyu Suci Perwitasari" dapat diartikan sebagai "jalan kebenaran" atau "inti kehidupan". Ini sering kali digunakan dalam konteks ritual dan kepercayaan Jawa, melambangkan air suci yang memiliki kekuatan spiritual dan dianggap sebagai sumber kehidupan.
Mohon dikoreksi kalau saya salah.. 🙏