Lin Chunian, seorang kurir, tak menyangka hasil pemeriksaan membuatnya menghadapi kehamilan yang tak direncanakan. Ingatan samar tentang satu malam di rumah sakit menjadi satu-satunya petunjuk. Di sisi lain, Nenek Chi, percaya ramalan tentang “gadis bertanda bunga” yang bisa membawa harapan bagi cucunya, Chi Jingze. Takdir mempertemukan mereka ketika Nenek menyelamatkan Lin yang pingsan dan, setelah tahu ia sendirian, mengajaknya masuk ke keluarga.
Jingze menilai Lin penuh perhitungan. Dingin dan waspada, ia menyetujui perjanjian pra-nikah demi menenangkan Nenek, sementara diam-diam terus mencari perempuan yang menyelamatkannya—seseorang dengan tanda kecil di dekat tulang selangka. Tanpa ia sadari, jawabannya mungkin berada sedekat itu.
Saat potongan memori perlahan kembali, Lin harus memilih antara melindungi dirinya atau membuka kebenaran. Apakah “tanda bunga” itu akan menjadi kunci yang menyatukan mereka, atau justru menyalakan kecurigaan baru? Dan ketika rahasia masa lalu bertemu dengan janji pernikahan, siapa yang lebih dulu melonggarkan hati?
Lin Chunian, seorang kurir, tak menyangka hasil pemeriksaan membuatnya menghadapi kehamilan yang tak direncanakan. Ingatan samar tentang satu malam di rumah sakit menjadi satu-satunya petunjuk. Di sisi lain, Nenek Chi, percaya ramalan tentang “gadis bertanda bunga” yang bisa membawa harapan bagi cucunya, Chi Jingze. Takdir mempertemukan mereka ketika Nenek menyelamatkan Lin yang pingsan dan, setelah tahu ia sendirian, mengajaknya masuk ke keluarga.
Jingze menilai Lin penuh perhitungan. Dingin dan waspada, ia menyetujui perjanjian pra-nikah demi menenangkan Nenek, sementara diam-diam terus mencari perempuan yang menyelamatkannya—seseorang dengan tanda kecil di dekat tulang selangka. Tanpa ia sadari, jawabannya mungkin berada sedekat itu.
Saat potongan memori perlahan kembali, Lin harus memilih antara melindungi dirinya atau membuka kebenaran. Apakah “tanda bunga” itu akan menjadi kunci yang menyatukan mereka, atau justru menyalakan kecurigaan baru? Dan ketika rahasia masa lalu bertemu dengan janji pernikahan, siapa yang lebih dulu melonggarkan hati?