Pengalaman pernah kerja d BNI bagian peminjaman & pernah jd agen kartu credit. Kebanyakan yg paling gampang ditawarin itu pekerja muda umur 20an yg baru kerja. Mungkin karena mereka masih kejebak dg trend FOMO & biar d bilang sukses sm temen2 seangkatanny dg membeli barang2 branded dan kebutuhan2 lainny yg sebenrny gak penting2 amat
dari pandangan saya sebagai seorang yang telah berumur 27 tahun, gak semua gen Z itu hutang karena foya2 kebanyakan para gen Z adalah orang yang terjebak atau sedang menjalani Sandwitch Generation, kebanyakan hutang untuk biaya keluarga, ataupun biaya saat kuliah yang mahal serta untuk masuk kerja sebagian besar membutuhkan uang pelicin, namun walau telah menggunakan uang pelicin, hanya bisa bekerja kontrak tidak permanen, kita butuh peranan pemerintah untuk membantu menghabisi pungli serta mempermudah/memperbanyak lowongan pekerjaan serta untuk bersaing dengan negara luar maka menurut perkiraan saya para pekerja muda harus bekerja diluar negeri namun dipermudah akses dan pelatihan oleh pemerintah, setelah itu para Gen Z atau para pekerja muda harus diwajibkan belajar dengan keilmuan pajak dan keuangan yang baik, sehingga para gen z bisa selamat dari godaan uang cepat atau hutang, sekan terima kasih
Betul bang. Gua punya utang 300jt buat ngelunasin kpr. Kesalahan gua sih terlalu ambil keputusan sama gak banyak ngobrol sama orang yg paham kpr. Akhirnya kejebak sistem cicilan suku bunga yg kalo gak di lunasin cepet" angsurannya bisa membengkak. Dan alhamdulilah bayar lancar walaupun gaji numpang lewat, buat yg baru" mulai kehidupan. Jangan sekali" ambil kpr. Lebih baik ngontrak tapi bisa nabung. Ketimbang ambil kpr ntar pusing. Semangat kawan" 🔥🔥
Kita analisa dulu ya guys, gaji rata² penduduk Indonesia itu di angka 2-3jt. Kita ambil katakanlah 3jt, coba kita hitung kasar ,biaya kos 600, bensin 300, kuota 100, beberapa orang harus memberikan sebagian ke ortunya, misal 600. Dari itu semua sisa 1.4jt:30=46.000/hari. Sekali makan maksimal 10k X 3= 30k. Untuk minum bisa air putih aja, harga per galon 22.000 untuk 19L, sebulan +-3 galon.Sisa uang 414k(belum sama sekali termasuk "jajan"). Jadi sistem upah kita sebenernya mepet,kalo pengen hidup biasa pun kita harus effort nyari tambahan. Sedangkan kebanyakan dari "gen Z" terlalu memaksa kehidupan mereka, dikendalikan oleh medsos. Judol memperparah keadaan ini, mereka kerja hanya untuk gali dan tutup lubang.
Mungkin ini kedengaran kayak teori konspirasi ataupun dongeng, tapi menurutku sistem yang ada memang dengan sengaja memiskinkan beberapa orang dan memperkaya yang lain. Aku nggak bilang buat kita yang miskin berarti nggak bisa punya kesempatan untuk kaya, tapi maksudku jalan kesana tuh emang 'dibuat' sesulit itu, dan hasil akhirnya tuh hampir bisa dibilang kayak 'kamu butuh keberuntungan', karena jalannya kecil dan banyak orang yang mau lewat jalan itu buat nyebrang. Kamu tuh melewati jalan berupa jembatan yang sisi kanan-kirinya tuh jurang dalam. Bukan cuma kamu aja yang berjuang, tapi semua orang dengan segala perjuangan dibelakangnya berdesak-desakkan berusaha melewati jembatan sempit itu. Kelompok kaya dan miskin itu ibaratnya dipisahkan sama jurang yang lebar dan dalam itu, dan kamu harus bisa menyebrang kesana kalau nggak mau terus miskin. Tapi nggak ada kepastian kalau kamu bakal bisa nyebrang. Sengaja nggak dibuat peraturan khusus, biar semua bisa 'mencoba' lewat jembatan itu dengan cara mereka. Terlihat adil tapi sebenarnya enggak. Beberapa orang ada yang naik motor, ada lagi yang naik mobil, ada yang pakai sepeda, dan ada juga yang berjalan kaki, ada juga yang bawa senjata. Semua orang dengan perbekalannya berusaha untuk nyebrang. Kita saling sikut-sikutan dan orang-orang berpower yang membuat sistem itu tertawa karena merasa berhasil mengendalikan dunia. Berasa TUHAN mereka. Tapi lama-lama mereka merasa bosan, jadi mereka membuat permainan psikologi yang lain lagi. Dimana mereka memberitakan bahwa tempat di kelompok kaya sangat terbatas, yang ingin menyebrang harus bersegera. Disitu kelompok selain kelompok kaya menjadi semakin takut. Merasa bahwa menyebrang adalah hal yang terpenting. Merasa bahwa tidak akan ada kebahagiaan kalau sampai tidak bisa menyebarang ke kelompok kaya (melewati yang lain). Kita lupa artinya bersyukur untuk hidup cukup, dan indahnya berbagi. Hal yang dulu masih masuk akal, tapi sekarang seolah berarti kita kalah dalam hidup. Uang dicetak dengan bahan murah, tapi membeli hampir seluruh waktu hidup kita. Terkadang kita bersikut dengan saudara sendiri karena warisan, pejabat yang kerjanya hanya berbohong supaya bisa korupsi, Kita dijadikan budak hiburan oleh segelintir orang kaya-raya. Karena itu bersyukur itu perlu. Sebenarnya kalau kita bicara soal cukup dan berbagi, tidak akan ada orang yang mati karena kelaparan. Buktinya berdasarkan data, banyak makanan yang berakhir di tempat sampah. Kita hanya menjadi individualis, dan konsumtif. Pola pikir soal pendidikan juga bergeser ke arah, 'akan jadi apa aku kalau lulus dari sini?', 'Apakah aku bisa menghasilkan banyak uang setelah ini?' Kita lupa esensi berpendidikan itu seperti apa. Kembali lagi, kita dikendalikan oleh sistem. 'Segelintir orang kaya raya' itu akan terus berusaha menjajah dengan metode-metode baru yang membuat kita tidak sadar sedang dijajah, atau mungkin kita sadar tapi dipaksa untuk bekerja dalam sistem penjajahan yang dibuat segelintir kaya-raya itu.
Ayo, stop berhutang untuk hal yang tidak perlu. Jangan judi woiii, hidup lebih dari sekedar jadi kaya dalam sekejap mata. Ayo desak pemerintah untuk melegalkan perampasan aset dan hukuman mati untuk koruptor.
Gila, panjang banget aku ngetik cerita fiksi diatas. 😂
ingat guys, utang buat hal konsumtif cman bakal jadi bom waktu, sebaliknya utang buat sesuatu yang produktif jauh lebih baik. Tips buat utang, jangan berutang lebih dari 20% dari penghasilan kalian, kalo bisa hindari berutang...
Izin bersuara, aku salah satu gen Z. Aku percaya sepenting itu pendidikan tinggi buat dapet penghidupan (pekerjaan) yg lebih layak. Aku perintis, bukan pewaris.
Udah nerapin frugal living sejak tahun ke-2 kuliah. Jarang banget self reward, dan full nabung. Tapi harus diberi tanggungjawab buat beli rumah di saat masa jaya ortu udah habis dan ke-chaosan yg terjadi di antara mereka sebelumnya. Dan itu perlu nominal yg besar. Semoga nggak akan terpikirkan buat hutang kedepannya, dan semoga Allah baik dalam memberi jalan.
Jadi menurutku, ada banyak trauma dan tanggungjawab yg diwariskan ke gen Z, alpha, dst dari generasi sebelumnya. Kami (gen Z) hanya ingin mengupayakan pendidikan tinggi buat dapet kerjaan yg bisa nyukupi kebutuhan dasar. Meski faktanya, sandwich generation itu ada. Masa jaya ortu udah mulai habis, belum lagi trauma mental yg dibentuk/diciptakan oleh ortu. Tolong jangan dipatahkan dengan stigma bahwa gen Z nggak baik dalam bekerja, kami sedang belajar, ada banyak jiwa yg bergantung di pundak kami. Secara intelektual menurutku kami mengupayakan untuk transisi (nggak mau yg kami alami dialami adek, anak, dan cucu kami). Jadi beban yg ditanggung lebih berat di tengah harga dan biaya yg naik. Yang kadang beberapa gen Z bahkan nggak sanggup buat mikirin diri mereka sendiri. Sehat-sehat buat kita semua.
Seumur hidup, cuman pernah ngutang atau kredit motor doang, itu juga karena kebutuhan kerja, sekarang utang 0 rupiah, hidup tenang, malam tidur pun enak,
Aku usia 27, motor bebek, anak kost, belum punya rumah, gak nongkrong karna gaji paspasan, belum nikah, tapi gak ada cicilan, gak ada utang juga, pekerjaan belum sampe di tahap manager, masih jadi karyawan biasa. Walaupun begitu, bersyukur banget sampai saat ini selalu diberkati Tuhan. Terimakasih Tuhan dan keluarga yang selalu mendoakan yang terbaik ❤
gue selalu bilang sama diri gue, di masa depan, jangan sampe hidup itu cuma untuk bayar utang. usahain sebisa mungkin gimana supaya hidup tanpa utang, dan terapin prinsip, kalo belum bisa jangan dipaksa..
Nggak usah Gen-Z deh. Kyknya hampir semua lapisan masyarakat terjerat hutang, mulai dari yg kecil-kecilan macam paylater kuota atau susu bayi (karena ada diskon) sampai gede. Dan banyak yg nggak punya tabungan. Terasa bgt pas hbs covid kemarin. Tabungan terkuras mau balikin lagi susah
Menurut gw bukan lagi tentang usia sih klo bahas soal utang, tapi soal mindset. Gw gen Z alhamdulillah selalu merasa tercukupi walaupun gaji masih dibawah umr. Cuma ga bisa dipungkiri klo kebanyakan yg terlilit utang itu gen Z.
yang bagian judi itu bener banget soalnya banyak orang, abg atau temen kerja disekitar gw yg kencanduan judol dan bukan cuman judol tapi gaya hidup hedon kayak di tiktok-tiktok, sebenernya gampang hidup dengan gaji sedikit kalau lu mau hidup hemat untuk sementara sampai dapet kerjaan yang lebih baik.
Gw mau ceriata dikit,,tahun 2023 sampe 2024 byk teman² gw yg doyan aka judol,awal 1 org cuma karna di tawarin dgn iming² gacor jadi satu tongkrongan main judol ,sampe teman gw ada yang gadai hp nya demi judol eh malah ga bisa bayar dan berujung di bayarin mama nya,untung nya gw ga terpengaruh karna gw udh liat sendiri dampak nya yaitu di bapak gw (skrg udh tobat),ada suatu waktu gw nasehatin mereka tentang dampak dan bahaya nya buat masa depan,apalagi kami masih anak SMA untungnya mereka denger dan rata² udh stop judol ,yah walau masih ada yg main tapi udh ga sesering dan seliar dulu,plis stop judol apalagi yg udh berkeluarga,gw udh rasain sendiri keluarga gw hancur karna bapak gw dulu hobi judi,jadi tolong berhenti sebelum terlambat,karna yg rugi ga cuma kamu, keluarga mu,orang tua mu,bahkan negara juga rugi karna judi najis ini
Gengsi sama lingkungan sirkelnya juga jadi pengaruh, kayak tren anak jaksel yang katanya "kalo ga pake Iphone berarti bukan bagian dari mereka", supaya mereka ga diejek ama temen2nya, mereka kepikiran sama pinjol buat beli iphone.
satu lagi yg sering kelewat. Dulu gen boomer ga "foya foya" karena emang harga kebutuhan tertier kayak tv gede, barang branded, tiket konser, dll itu mahal buanget. Sedangkan harga kebutuhan primer kayak makan, bensin, rumah, biaya sewa, pendidikan itu masih relatif terjangkau. Sekarang justru sebaliknya, kebutuhan tertier jadi lebih terjangkau, tapi harga rumah, pendidikan, sewa apart, dll malah jadi ga masuk akal.