Ini adalah salah satu operasi penyelamatan paling berbahaya saat Perang Dunia II. Pada tahun 1945, 75 bus putih berangkat dari Malmö, Swedia, dalam perjalanan melintasi Jerman. Mereka membebaskan antara 15.000 dan 20.000 tahanan dari kamp konsentrasi Nazi. Ibu dari Marianne Prager termasuk di antara mereka.
80 tahun setelah berakhirnya Perang Dunia II, Marianne Prager menelusuri kembali perjalanan ibunya. Sebagai seorang perempuan muda Denmark, ibu Marianne, Ruth Toronczyk, menghabiskan 18 bulan di kamp konsentrasi Theresienstadt di Jerman. Ia mengalami masa-masa yang menyulitkan, mulai dari perjalanan dengan kereta barang melintasi separuh Eropa, ditawan di kamp, kelaparan, hingga akhirnya diselamatkan. Marianne Prager ingin tahu: Bagaimana ibunya bisa bertahan hidup?
Di Theresienstadt saja, 450 orang Yahudi Denmark diselamatkan pada bulan April 1945. Palang Merah di Swedia yang mengirimkan bus-bus putih. Count Folke Bernadotte, keponakan raja Swedia dan pejabat tinggi Palang Merah, mengatur operasi tersebut. Rekan negosiasinya di pihak Jerman adalah Heinrich Himmler, kepala Gestapo dan SS. Ini adalah operasi penyelamatan yang hampir terlupakan saat ini. #dwdocs #dwdokumenter #dokumentersejarah
______
DW Dokumenter memberimu wawasan lebih dari hal yang biasa diberitakan. Di sini kamu bisa menonton film dokumenter terbaik yang diproduksi lembaga penyiaran publik Jerman dan rumah produksi bertaraf internasional. Kamu akan menemui banyak sosok yang membuat penasaran, mengenali rumitnya keseharian hidup, menjelajahi tempat-tempat terjauh dan mendalami isu terkini dan peristiwa global. Ayo subscribe dan jelajah dunia bersama kami di DW Dokumenter.
Dokumenter ini juga bisa kamu ikuti di:
⮞ DW Documentary (English): @DWDocumentary
⮞ DW Documental (Spanish): @DWDocumental
⮞ DW Documentary وثائقية دي دبليو (Arabic): @dwdocarabia
⮞ DW Doku (German): @dwdoku
⮞ DW Documentary हिन्दी (Hindi): @dwdochindi
______
Ikuti DW Documentary di Instragram: Instagram: dwdocumentary
dan di Facebook: Facebook: dwdocumental
Mohon untuk membaca dan mengikuti kebijakan Netiket DW di kanal kami: https://p.dw.com/p/OBpw
Ini adalah salah satu operasi penyelamatan paling berbahaya saat Perang Dunia II. Pada tahun 1945, 75 bus putih berangkat dari Malmö, Swedia, dalam perjalanan melintasi Jerman. Mereka membebaskan antara 15.000 dan 20.000 tahanan dari kamp konsentrasi Nazi. Ibu dari Marianne Prager termasuk di antara mereka.
80 tahun setelah berakhirnya Perang Dunia II, Marianne Prager menelusuri kembali perjalanan ibunya. Sebagai seorang perempuan muda Denmark, ibu Marianne, Ruth Toronczyk, menghabiskan 18 bulan di kamp konsentrasi Theresienstadt di Jerman. Ia mengalami masa-masa yang menyulitkan, mulai dari perjalanan dengan kereta barang melintasi separuh Eropa, ditawan di kamp, kelaparan, hingga akhirnya diselamatkan. Marianne Prager ingin tahu: Bagaimana ibunya bisa bertahan hidup?
Di Theresienstadt saja, 450 orang Yahudi Denmark diselamatkan pada bulan April 1945. Palang Merah di Swedia yang mengirimkan bus-bus putih. Count Folke Bernadotte, keponakan raja Swedia dan pejabat tinggi Palang Merah, mengatur operasi tersebut. Rekan negosiasinya di pihak Jerman adalah Heinrich Himmler, kepala Gestapo dan SS. Ini adalah operasi penyelamatan yang hampir terlupakan saat ini. #dwdocs #dwdokumenter #dokumentersejarah
______
DW Dokumenter memberimu wawasan lebih dari hal yang biasa diberitakan. Di sini kamu bisa menonton film dokumenter terbaik yang diproduksi lembaga penyiaran publik Jerman dan rumah produksi bertaraf internasional. Kamu akan menemui banyak sosok yang membuat penasaran, mengenali rumitnya keseharian hidup, menjelajahi tempat-tempat terjauh dan mendalami isu terkini dan peristiwa global. Ayo subscribe dan jelajah dunia bersama kami di DW Dokumenter.
Dokumenter ini juga bisa kamu ikuti di:
⮞ DW Documentary (English): @DWDocumentary
⮞ DW Documental (Spanish): @DWDocumental
⮞ DW Documentary وثائقية دي دبليو (Arabic): @dwdocarabia
⮞ DW Doku (German): @dwdoku
⮞ DW Documentary हिन्दी (Hindi): @dwdochindi
______
Ikuti DW Documentary di Instragram: Instagram: dwdocumentary
dan di Facebook: Facebook: dwdocumental
Mohon untuk membaca dan mengikuti kebijakan Netiket DW di kanal kami: https://p.dw.com/p/OBpw